It wasn’t me
PART 2 (INTENSITAS DAPAT MENJEBAKMU)
“Pedih, ku saat merasa indah, semua hilang dan usai. Bila cinta ini tak nyata jangan engkau beri harapan! Sudah, cukup kini kusadari. Terlalu cepat jatuhkan hati.” Terdengar indah sekaligus membuat dadaku sesak ketika mendengar lirik lagu terbaru Tiara Andini yang berjudul “Merasa Indah” itu.
Karena begitulah yang saat ini ku rasakan. Aku terbang terbawa angan-angan, harapanku yang terlalu tinggi dan aku mulai merasa indah. Tapi naas, dunia begitu kejam membalikkan ekspektasi yang ku miliki. Tak apa, mungkin ini sudah takdir yang harus ku terima.
Heyyy,,, jangan sedih! Kita berharga untuk orang-orang yang menyayangi kita tanpa ada tipu muslihat sedikit pun.
Dia terus menghubungiku, mematikan penolakanku.. What? mematikan penolakan? Seperti apa?
Maknanya, aku tidak bisa menolak semua keinginannya, padahal aku punya banyak kesibukan selain hanya “merespon” chat-chat keluh-kesahnya.
“Hey, bantuin aku dong! Please!” emoticon memohon.....
Yahhh... Mau bagaimana...
“Oke, apa nih?” jawabku penuh gairah dan penasaran. Antusiasme yang kutunjukkan selalu responsif seperti mendapat diskon gratis ongkir saja.. semangat!!
“Ini lhoo... coba deh kamu cek! udah bener gak ya makalahku?”
Ohh ini anak kuliahan ceritanya? Sepertinya begitu. Biasanya aku lebih banyak membaca sekilas pada beberapa karya buatan orang lain yang datang kepadaku. Tapi tidak untuk dia.... aku begitu cermat mengamati detail setiap tulisannya. Padahal ia mungkin punya kemampuan dan skill yang lebih hebat daripada aku. Tapi ya sudahlah, sifat perfeksionis kadang memang menghantui hingga terus melibatkan orang lain untuk memastikan dirinya perfect.
T erus menerus begitu, hingga aku merasa begitu banyak terlibat bersama dalam aktivitasnya. Ku pikir aku begitu penting untuk hidupnya, skala prioritas untukku mungkin juga lebih tinggi kala itu. Sungguh benar-benar tidak sadar sedikit pun.
“Antara manisnya syahadat dan dahsyatnya syafaat, antara hitungan tasbih aku percaya bahwa sujudku dan sujudmu akan bertemu di amin yang sama” hiyaaa mungkin seperti itulah gambaran isi hati dan harapanku kala itu. Oh Noo.. semoga it wasn’t me... tapi itu sudah terjadi, Bagaimana? Ku akui it was me. Kamu pernah menjadi manusia yang terlalu percaya diri? Seperti itulah aku kala itu.
Oh ya, sampai di sini kamu sudah bisa menebak kenapa aku terjebak dengan “it wasn’t me” yang dibuat olehnya?
Semoga tebakanmu benar ya....
Aku mulai terjebak ketika dia mulai melibatkanku pada hal-hal penting yang menyangkut urusannya. Aku merasa menjadi orang berharga yang bisa dia andalkan. Aku dicari, aku dihubungi, aku mungkin merasa seperti diistimewakan.
Aku tahu rumor wanita yang berpura-pura.. Tapi saat-saat genting seperti itu, dimanakah nalarku berada? Ku rasa kamu pun akan begitu. Apalagi kamu seseorang yang sudah lama sendiri, meratapi kesepian, sering ditolak, ...stop! terlalu tragis.
Sabar! Kita lanjut...
Jadi sudah tahukan mengapa “it wasn’t me” dapat dengan ampuh menjebakku hanya karena bermodal sebuah kepedulian palsu. Mata hatiku buta menyangka bahwa itu “its me” pake “real”. Intensitas yang dia lakukan terhadapku begitu menyentuh hingga lalap.
“Aku mundur ya, see you. Aku pergi bukan karena rasa itu hilang, tapi aku menghargai perubahan sikap kamu denganku karena kini aku tahu “it wasn’t you”. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk memberikan feedback yang baik, intinya terima kasih sudah singgah, terima kasih sudah memberi aku rasa dan terima kasih sudah mengenal pribadiku,” dramatis sekali ucapan terakhirku ini. Lagi-lagi “it was me” itu beneran aku. Begitulah gambaran ketika aku mengakhiri perbincangan terakhir kami.
Tapi ceritaku belum berakhir. Kamu tahu alur cerita ini maju dan mundur.
Jadi..Kita lanjut part 3 ya....
Komentar
Posting Komentar