It wasn’t me
By: Hamdi
Berkali-kali aku meminta maaf kepadanya, memohon agar ia tetap bersamaku seakan aku seorang pendosa yang tak kenal kebenaran dan memohon agar malaikat menunda hukuman untukku. Beruntungnya itu ku lakukan hanya melalui pesan Whatsapp, jadi ku bisa saja berpura-pura. Karena begitulah kiranya banyak orang bersikap, ia seakan meratapi kesalahan dengan untaian kata chat yang panjang. Padahal sebenarnya ia hanya sedang memainkan jurus bermuka dua.
“Maaf ya, selama ini udah buat kamu berharap lebih sama aku,” diakhiri emoticon senyum. Hebat sekali wanita itu mengelabuiku, gumamku saja di dalam hati. Lalu kemudian ku balas.
“Aku gak bisa hidup tanpa kamu, apa kamu tega ninggalin aku gitu aja? Ku pikir sikapmu selama ini serius, tapi ternyata aku salah sangka ya?” ku akhiri dengan emoticon menangis. Wah hebat sekali aktingku, tapi sebentar aku belum tentu salah.
Ia kemudian membalas, “makanya jadi orang jangan baperan, aku friendly ke semua orang kok, aku Cuma menghargai kamu jadi jangan berharap lebih,” hanya diakhiri tanda titik tanpa emoticon satu pun.
Geram kala itu saat aku membaca balasan pesan darinya. Wajar saja ketika kita merasa indah tapi harus dipaksa menghadapi kenyataan bahwa itu hanya impian. Emosi meledak-ledak seakan dia lah manusia paling kejam dan jahat yang ku temui di dunia ini. Ia lebih jahat dari seorang psikopat mungkin yang merobek-robek isi hatiku. Terasa perih walau tdak berdarah.
Sangat lebay......
Oke kita pertegas bahasanya.
Awalnya aku biasa saja, menanggapi pesan darinya yang iseng mengirimkan “Assalamualaikum, maaf ganggu, boleh minta tolong gak?”
Mata yang mengantuk kemudian terbelalak tajam memandangi background hijau dari aplikasi Whatsapp karena aplikasi itu seakan seperti telah berdebu lama tak terbuka. Pun jika dibuka hanya untuk memandangi keindahan hidup orang lain pada menu “Status” Mirisssss.
Ku balas dengan seadanya, layaknya seorang teman biasa tanpa ada maksud terselubung sedikit pun. Ya, aku hanya bersikap profesional seperti yang biasa ku lakukan. Tapi, aku atau siapa pun mungkin tidak bisa mengelak bahwa dalam setiap hubungan manusia itu terdapat transaksional. Artinya, setiap orang punya maksud dan tujuan ketika ia berhubungan dengan orang lain.
Contohnya, “DIA” kira-kira dia tidak bermaksud apa-apa menghubungiku? Oh tentu saja ada. Kalian pernah begitu? Ku sangat yakin pernah.
Baiklah, obrolan kami terjalin semakin sering dan intens mulai dari membicarakan hal penting hingga candaan krik yang tidak berfaedah. Ku pikir ini wajar, karena hubungan dua jenis manusia yang mulai hangat. Tapi obrolan renyah itu memang membius suasana.
Banyak orang bilang jika lelaki itu adalah buaya yang pandai mengelabui wanita. Hmmm...tapi pernahkah mendengar rumor bahwa wanita juga pandai berpura-pura? Ia seakan suka tapi ternyata cuma bercanda.
“It wasn’t me” bisa saja ia berucap begitu.
Jika aku telah lama tahu tentang rumor itu, kenapa aku masih terjebak? ....
Aku akan bercerita tentang racun “it wasn’t me” yang membunuhku hingga tak berdaya. Aku tak salah, tapi aku terlihat salah.
“Jika kalian suka, aku bakal lanjutkan” emoticon senyum. Terima kasih
فوءد
BalasHapus😊
BalasHapusLanjutt💪
BalasHapus