KAMAD MUDA BERSAHAJA, BUKTI SUKSES KEPEMIMPINAN WANITA
Oleh: Saibatul Hamdi
Gap perspektif mengenai kepemimpinan wanita nampak tak kunjung usai diperbincangkan. Ada berbagai alasan yang masing-masing diusulkan untuk menguatkan pendapat masing-masing. K.H. Husein Muhammad dalam bukunya “Fiqih Wanita” menyebut bahwa sejumlah besar ulama masih bersikeras memandang bahwa pria memang menempati posisi superioritas atas wanita. Pria dianggap lebih unggul dari wanita. Begitu pun dalam persoalan kepemimpinan, pria yang lebih pantas. Hal ini berdasar pada “ar-rijalu qawwamuna alan nisa”. Pada umumnya, orang melihat wanita sebagai makhluk yang lemah, sementara pria dianggap sebagai makhluk yang kuat; wanita dianggap emosional, sementara pria lebih rasional; wanita cenderung halus, sementara pria kasar dan seterusnya.
Namun persepsi demikian tidaklah mutlak dapat diterima begitu saja. Nasaruddin Umar dalam bukunya “Ketika Fikih Membela Perempuan” menjelaskan bahwa anggapan kebanyakan orang yang menyatakan pria lebih kuat, lebih cerdas, dan emosinya lebih stabil; sementara wanita itu lemah, kurang cerdas, dam emosinya kurang stabil hanyalah persepsi gender yang keliru (gender steretyping). Hal ini dikuatkan oleh para ahli genetika yang berpendapat bahwa manusia adalah makhluk biologis yang mempunyai karakteristik tersendiri, karena perkembangan kesadaran dan kecerdasan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetika melainkan juga terdapat faktor lingkungan.
Sampai di sini, persepsi terhadap kepemimpinan wanita semestinya perlu diluruskan. Artinya adalah kita harus melihat konteks setting sosial kehidupan yang semakin berkembang. Jika dulu wanita dilarang memimpin karena kala itu banyak wanita yang belum mengemban pendidikan. Selain itu, derajat wanita di kalangan masyarakat sangat rendah bahkan pada masa Jahiliyah, orang-orang merasa hina dengan kehadiran anak wanita. Namun semua itu berubah ketika Islam datang, Rasulullah meninggikan derajat para wanita hingga di dalam al-Qur’an pun terdapat surat yang dinamai an-nisa yang berarti perempuan atau wanita.
Ada banyak bukti bahwa wanita juga sukses dalam memimpin, meskipun menurut Yusuf al-Qardhawi dalam menengahi perbedaan pendapat yang ada wanita boleh memimpin selain kepemimpinan puncak yang tertinggi. Pendapat tersebut ternyata mengandung hikmah, bahwa ketika wanita menjadi pemimpin puncak ada tugas-tugas yang diemban lebih berat dan ada tanggung jawab lain seperti mengabdi untuk keluarganya. Namun ketika wanita memimpin sebuah lembaga misalnya, maka hal itu tidak menjadi permasalahan.
Kamad muda bersahaja, bukti sukses kepemimpinan wanita menjadi tajuk artikel ini. Hal ini karena telah dibuktikan oleh dua orang kepala madrasah yang memimpin Madrasah Aliyah Sabilal Muhtadin Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka adalah Ibu Raisa Camalia, SE. dan Ibu Iqlima, M.Pd. Dua orang ini telah menepis anggapan bahwa wanita tidak pantas memimpin. Terbukti keduanya dapat memberi sumbangsih kemajuan bagi Madrasah Aliyah Sabilal Muhtadin yang kian hari kian berkembang.
Tepat pada hari Sabtu, 11 September 2021 lalu serah terima jabatan kepala MA Sabilal Muhtadin dilakukan dari Ibu Raisa Camalia, SE. sebagai kepala madrasah periode sebelumnya kepada Ibu Iqlima, M.Pd. sebagai kepala madrasah yang baru. Riwayat kepemimpinan keduanya tak perlu diragukan, baik Bu Raisa maupun Bu Iqlima adalah orang-orang yang aktif dalam kegiatan organisasi dan handal dalam keahlian manajerial. Sehingga tidak heran keduanya dipercaya meneruskan estafet kepemimpinan dan perjuangan ayahanda K.H. Zainuri HB selaku pengasuh Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin.
Kepala madrasah periode sebelumnya Ibu Raisa Camalia, SE terbukti telah banyak melakukan terobosan baru di MA Sabilal Muhtadin terutama dari segi fasilitas madrasah yang semakin meningkat. Begitu pula Ibu Iqlima, M.Pd. sebelum menjabat sebagai kepala MA, beliau berfokus pada peningkatan kualitas Madrasah Salafiyah yang memperkuat pendidikan kesetaraan. Hal ini bertujuan agar para santri yang lulus dari Madrasah Salafiyah nantinya dapat memperoleh ijazah resmi dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kontribusi besar keduanya patut diacungkan jempol. Dua orang wanita hebat yang telah menunjukkan kebolehannya dalam memimpin sebuah lembaga besar. Apalagi lembaga tersebut adalah lembaga pendidikan yang menjadi pusat ilmu pengetahuan bagi masyarakat sekitar. Semoga dengan adanya bukti kepemimpinan dua wanita ini dapat menepis stereotip masyarakat yang terlalu kuno dalam menyikapi status seorang wanita sebagai pemimpin.
Mari kita buka pikiran dengan lebih luas. Berhenti mendalihkan teks-teks keagamaan hanya untuk mendeskriditkan. Teks al-Qur’an maupun Hadis sejatinya dipahami secara kontekstual, bukan hanya melihat secara tekstual. Baik pria maupun wanita memiliki kelebihan masing-masing, tidak ada yang lebih superior atau lebih mulia. Sebab Allah menilai kemuliaan bukan berdasarkan gendernya, melainkan berdasar pada ketaqwaannya.
Semoga bermanfaat.....
Penulis: Saibatul Hamdi, S.Pd. (Salah satu guru di MA Sabilal Muhtadin, Kotawaringin Timur).

Komentar
Posting Komentar