SALAT DALAM SOROTAN: SUDAHKAH KITA TEGAKKAN?
(Analisis Diskursif Terhadap Konten Khutbah K.H. M. Makki)
Salat adalah tiang agama. Pribahasa yang sering kita dengar bahkan sering kita ucapkan sangatlah tepat menggambarkan urgensitas salat bagi kehidupan. Salat menjadi amal yang pertama kali dihisab dan diperhatikan, jika salatnya baik maka amal yang lain juga mengikuti begitu pun sebaliknya. Sebagai umat Islam, salat menjadi suatu kewajiban yang hukumnya adalah fardhu ‘ain atau ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang yang beragama Islam. Namun faktanya, Islam hanya sekedar identitas formal belaka tetapi tidak dimanifestasikan dalam kehidupan.
Membicarakan salat yang menjadi tiang agama, sejatinya dilakukan oleh setiap muslim lima kali dalam sehari semalam. Ibadah rutinitas ini dilakukan dengan rukun dan syarat yang ditetapkan. Namun pernahkah kita meresapi esensi salat yang disebut-sebut sebagai tiang agama itu? Tulisan ini berupaya menganalisis tentang konten Khutbah K.H. Muhammad Makki yang disampaikan di Masjid Al-Hikmah (Kayuwara Darat, Desa Jaya Karet, Kec. Mentaya Hilir Selatan, Kab. Kotawaringin Timur) pada Jum’at, 17 September 2021. K.H. Muhammad Makki merupakan salah seorang da’i kondang yang ada di Kotawaringin Timur. Pembawaan ceramah beliau yang humoris namun mengandung berbagai pelajaran menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah.
Setelah mengamati, mendengarkan, dan memperhatikan terdapat beberapa poin penting yang disampaikan dalam khutbah beliau: pertama, salat sesungguhnya mengajarkan tentang kerendahan hati. Hal ini dapat kita renungi melalui sujud kita kepada Allah SWT. Sebagaimana diketahui bahwa kepala merupakan anggota kehormatan dalam diri manusia. Namun ketika salat, kepala-lah yang justru merendah dan bahkan sejajar dengan telapak kaki. Hal ini menunjukkan bahwa sujud sebagai salah satu rukun salat mengajarkan tentang kerendahan hati dan kerendahan diri kita sebagai manusia dihadapan Allah SWT. Implikasi dari nilai ini adalah kita sebagai manusia hendaknya menerapkan kerendahan hati tersebut kepada manusia yang lain. Sebab dihadapan Allah tidak ada derajat yang membedakan kecuali ketakwaan.
Kedua, salat mengajarkan tentang keikhlasan. Ketika melakukan takbiratul ihram maka artinya kita telah menyerahkan ibadah yang dilakukan hanya kepada Allah SWT dan hanya mengharap keridhaan-Nya. Hal inilah yang semestinya diterapkan dalam kehidupan, kita hendaknya mengikhlaskan hati dalam melakukan segala hal yang bermanfaat untuk mencapai titik keridhaan.
Ketiga, salat mengajarkan tentang ketenteraman pada hati dengan memusatkan perhatian. Hal ini mengisyaratkan kepada manusia untuk tidak berkeluh kesah terlalu berlebihan ketika ditimpa cobaan, sebab ujian dan cobaan sejatinya akan meningkatkan derajat keimanan. Disisi lain, gelisah bukan memecah persoalan tetapi hanya akan membuat buntu pikiran.
Demikian bahwa beliau berupaya menjelaskan tentang esensi salat yang sejatinya tidak hanya sebatas dilakukan melalainkan ditegakkan. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an terdapat redaksi dirikan! bukan lakukan! Sebab Allah menginginkan umat-Nya meresapi makna salat yang sesungguhnya bukan hanya sekedar ritual rutinan tetapi sebagai pondasi kehidupan.
Isi khutbah yang beliau sampaikan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, dimana ada banyak orang yang salat tetapi masih ramai bermaksiat. Ada banyak figur-figur yang dinilai “alim” tetapi terkadang juga masih “lalim”. Namun terlepas dari berbagai opini tersebut, konten khutbah K.H. Muhammad Makki ini dapat dijadikan renungan untuk tidak sekedar melakukan tetapi berupaya menegakkan dan mendirikan salat dalam kehidupan.
Melihat dari sisi pembawaan, khutbah disampaikan dengan intonasi yang menegaskan isi yang disampaikan. Mimik wajah dan sorotan mata menambah yakin orang-orang yang mendengarkan. Pemilihan diksi yang ramah dan tidak menghakimi menjadi kunci penerimaan terhadap isi khutbah yang disampaikan.
Semoga bermanfaat... Terima kasih.
Diulas oleh: Saibatul Hamdi (Jum’at, 17 September 2021)

Komentar
Posting Komentar