Kau Lebih Memilihnya daripada Aku??
Saibatul Hamdi
Di sebuah pasar musiman, aku dan teman kecilku pergi untuk berbelanja. Mata kami tertuju pada sebuah gerobak penjual sate yang sedang ramai pengunjung. Ku pikir jika dagangan yang ramai pengunjung itu mungkin sesuatu yang dijual sangat enak. Kemungkinan yang lain karena harga barang yang dijual di tempat tersebut lebih murah daripada yang lain. Kemungkinan selanjutnya adalah hanya ada satu-satunya penjual yang menjual barang tertentu di pasar tersebut. Dalam teori struktur pasar, fenomena demikian disebut sebagai pasar monopoli, yakni hanya terdapat satu penjual yang mendominasi. Ternyata, dugaanku dibuktikan dengan kemungkina ketiga yaitu hanya terdapat satu penjual sate di pasar tersebut. Kemudian kami berdua pun mendekat dan berniat untuk membeli sate yang sedang laris manis itu.
“Pak, pesan satenya ya Rp. 10.000 saja,” ucapku. Si Bapak hanya mengatakan, “Iya, nanti,” sembari melayani pembeli yang lain. Tidak berselang lama, pembeli berikutnya datang dan langsung memesan sate.
“Pak, saya beli Rp. 30.000 ya!” Si Bapak terus mengatakan iya dan lagi-lagi datang pembeli berikutnya dengan jumlah pesanan yang lebih banyak. Bapak tukang sate mulai sibuk memanggang dan mulai membungkus sate dalam plastik-plastik dengan jumlah yang banyak. Ia pun mendahulukan pembeli-pembeli yang membeli banyak daripada yang sedikit. Alhasil, kami yang hanya beli Rp. 10.000 tidak dihiraukan padahal antrean kami lebih dulu. Dan ketika tiba antrean kami dikabulkan, sate yang dijual pun keburu habis. Akhirnya kami tidak mendapatkan apa-apa. Mengapa bisa begitu? Sebab mungkin saja sang penjual akan kehilangan pembeli emasnya dengan keuntungan yang lebih tentunya karena dagangannya banyak dibeli. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah, dalam teori penjualan, seorang penjual harus memberi pelayanan yang berkualitas kepada pembeli yang menjadi targetnya.
Ya begitulah realita, ada banyak orang yang hanya memerhatikan satu sisi namun melupakan sisi yang lain. Pada kasus di atas, sang penjual telah melupakan etika sosial yang sejatinya ia harus mengutamakan pembeli yang terlebih dahulu datang walau nominal belanjaannya lebih sedikit. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini pula yang sering dilupakan pada berbagai hal, dimana pada beberapa keadaan ada istilah prioritas dan non prioritas. Padahal sejatainya prioritas yang sesungguhnya harus menimbang pada berbagai hal. Kita semestinya tidak membiarkan ketidakadilan kecil yang dibuat atas nama keuntungan pribadi dan menindas orang lain. Apalagi indikator yang digunakan adalah kepuasan pribadi. Tidak heran, jika ada sejumlah hak yang terabaikan dan kedekatan mulai digaungkan.
“Berilah prioritas yang sesuai bukan atas dasar ego yang tidak berdasar”, (17 Mei 2021)

Barangkali si penjual lipa, karna si pembeli pertama tidak mengingatkan sekali lagi ke bapak penjual sate, bukan krna ego. Hehe. mantab Kisahnya semoga dapat di jadikan pelajaran kepara para pedagang2 supaya yg harus di perioritaskan adalah si pembeli pertama the next pembeli berikutnya. Hehe di tunggu part ke 2 nya
BalasHapusKek aku harus masuk didalam cerita ini sebagai manager pemasaran dan pelayanan. Jadi nanti akan dibuat antrian berdasarkan no urut yg datang. Kemudian, sering kali penjual lupa. Maka harus dibuat bagian pemasak sendiri. Tiap pembelian akan di kontrol bagian pelayanan dengan memberikan no antrian dan mencatat pesanan dalam memo kecil dengan no urut tertera. Jadi pelayanan di prioritas sesuai no urut yg diberikan bagian pelayananan. Bagian koki fokus masak saja. Kalo dua bagian ini hadir ku rasa cukup untuk skala kecil. Satu pelayan, satu pemasak. Wkwkwwkwk. Buat cerita tentang ku donk.
BalasHapusHal dalam cerita keral kali terjadi, mungkin orang" akan menganggap biasa hal tersebut. Contoh saja pelayanan keamanan dan ketentraman masyarakan yahh yang kalian sendiri tau kan pak P, kadang kala mengabaikan masyarakat dengan keterbatasan materi, dan lebih mengutamakan layanan pada penguasa, pejabat dan orang" ber uang
BalasHapusAnak IPS sejati. Ilmu pemasaran ja tau eh
BalasHapus