Menakar Misoginis dan Feminisme Secara Netral
Oleh: Saibatul Hamdi
Teringat celetukan salah satu temanku,“Kenapa sih laki-laki selalu dijadikan kebanggan dalam keluarga?” Banyak orang tua yang lebih mengidamkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Tak hanya di zaman sekarang, nampaknya fenomena ini juga berlaku pada zaman Jahiliyah. Dulu, orang-orang menganggap bahwa anak laki-laki begitu berguna terutama untuk menjadi tulang punggung keluarga dan juga berperang. Tapi bagaimana dengan perempuan? Mereka dipandang hina, tidak memiliki peran penting, bahkan dianggap beban keluarga. Hingga yang lebih mengerikan adalah, orang-orang Jahiliyah kala itu mengubur anak perempuan mereka secara hidup-hidup.
Wow,, ngeri ya!! Dapat kita bayangkan jika zaman sekarang hal itu masih terjadi. Tetapi, nampaknya ini bukan sekedar terkaan, tradisi demikian sejatinya masih hadir pada masyarakat tertentu. Namun ekstrimismenya saja yang berkurang. Sebagai contoh, anak laki-laki akan disekolahkan dengan tuntas. Sementara anak perempuan kadang dibatasi. Katanya, anak perempuan itu nanti hanya berkutat pada kasur, dapur, dan sumur. Jadi, untuk apa sekolah tinggi? Toh nanti tetap jadi ibu rumah tangga.
Tragis ya?
Ya begitulah. Realita tidak bisa kita pungkiri, bahwa pemahaman kolot ini masih saja berkeliaran. Ada hal lain yang lebih parah yaitu ketika perempuan diberi stigma bahwa mereka adalah penyebab Adam diusir dari surga. Perumpamaan ini terus dibawa-bawa hingga akhirnya perempuan selalu menjadi korban keegosian. Teologi inilah yang melahirkan paham misoginis.
Akibatnya apa sih?
Jadi, laki-laki kadang merasa superior dibandingkan perempuan. Mitos perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk bengkok laki-laki menambah persepsi bahwa mereka akan terus berada di bawah laki-laki. Betapa pun tinggi status sosialnya, mereka tetap dianggap sebagai jenis kelamin kedua (second sex). Lalu, hal ini merambah kepada berbagai aspek di antaranya laki-laki merasa tak pantas jika harus disamakan derajatnya dengan perempuan.
Tapi, perempuan juga tak tinggal diam. Mereka menuntut kesetaraan yang dianggapnya mutlak ada. Ketidakadilan yang selalu dialami pihak perempuan membuat mereka berontak menuntut hak yang patut. Pada akhirnya kaum perempuan ingin selalu sama dan tidak ada pembatas stereotip gendernya. Paham ini melahirkan feminisme. Mereka yang berpaham ini menyebut tindakannya sebagai sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan hak-hak perempuan bukan menebar kebencian pada kaum laki-laki.
Lalu apa masalahnya?
Fanatisme dan ekstrimisme berlebihan membuat dua paham ini seakan terlalu mendominasi satu sama lain. Satu sisi, misoginis memandang sebelah mata kaum perempuan. Namun sisi lain feminisme menganggap stereotip gender bukan pembeda antar dua jenis kelamin ini.
Lalu siapakah yang benar?
Sejatinya keduanya adalah keliru. Mari menakarnya secara netral. Laki-laki diciptakan sebagai pemimpin yang mengayomi, menjaga, dan mencintai bukan untuk menghakimi. Begitu pun perempuan diciptakan untuk dihormati dan dikasih sayangi. Pada hal-hal tertentu ada pembatas di antara keduanya dengan tujuan membuat porsi yang pas pada fungsi masing-masing. Ketika perempuan dilarang menjadi imam shalat laki-laki bukan sebuah penindasan gender. Melainkan pembagian hak yang sepatutnya ada ketika laki-laki mendapat posisi keempat sebagai prioritas bakti anak pada orang tua. Apakah ini tidak adil? Sudah cukup adilkan.
Cerita aneh kudapatkan dari seorang teman tentang Ibu-ibu yang mengeluh ketika berada di bus. Ia melihat seorang laki-laki paruh baya duduk dengan santai di kursi depan sedangkan dirinya harus berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. Lalu memunculkan protes melalui status whatsappnya yang menyebut bahwa penumpang lelaki itu terlalu egois. Tidak memikirkan nasibnya sebagai perempuan. Pertanyaannya adalah prinsip kesetaraan gender yang diagungkan ke mana? Bukankah tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan?
Cerita di atas hanya sebuah perandaian bahwa Allah sudah cukup adil membagi fungsi masing-masing.
Lalu bagaimana dengan status sosial yang lain? Zaman sekarang tidak menjadi permasalahan. Baik laki-laki maupun perempuan bebas berekspresi tanpa ada perbedaan yang signifikan. Hanya saja, mereka harus menakar fungsinya dengan sesuai tanpa melebih-lebihkan dengan argumentasi yang tak masuk akal.
Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 187 cukup mengingatkan kita tentang hakikat laki-laki dan perempuan.
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”
Saling melengkapi adalah sebuah keindahan dan keniscayaan, perluas fungsi diri bukan perbesar ego diri. Sekian...
***

Terima kasih bagus sekali
BalasHapusMasyaallah keren, makasih ilmunya
BalasHapus