REINKARNASI
REINKARNASI (Sebuah Cerita Fantasi)
Oleh: Saibatul_Hamdi11
Derap langkah Satire membabi buta di gubuk tua itu. Teriakannya memekik
keras tanda hatinya sedang kacau balau. Sementara di luar terdengar suara auman
itu masih terdengar jelas membuat buluk kuduk berdiri. Afanti yang menilik di
samping pepohonan rindang dekat gubuk itu merintih gelisah berharap nasib buruk
tak menimpanya.
“Drakkkk,” suara dahan pohon itu terbelah dan jatuh.
Mungkinkah makhluk itu masih mengintai di sana? Affanti mencoba
memberanikan diri melangkah ke gubuk. Namun langkah kakinya tersentak
rerumputan kering bergumpal itu.
“Oh sakit,” Affanti meringkik menahan suaranya. Menoleh ke arah kiri dan
kanan memastikan makhluk itu tidak mendengarnya.
“Siapa itu?” tegur Satire mendengar suara kecil yang tidak asing.
“Aa...,” sahut Affanti hendak menggubris pertanyaan Satire dari dalam.
Namun auman itu kembali menggelegar semakin dekat.
Affanti lekas menaiki tangga gubuk dan membuka pintu yang hampir terlepas
itu. Satire terkaget-kaget melihat penampakan kekasihnya itu datang
menghampiri.
“Kauu,....” ucapnya terbata-bata.
“Cepat! Kita dalam bahaya,” seru Affanti terengah-engah menahan napas.
“Hendak ke mana kita melangkah?” tanya Satire dengan ragu.
Affanti tak sempat membalas pertanyaan kekasihnya itu. Hanya kata pergi
yang terlontar dari mulutnya sambil memegang erat tangan Satire.
“Aff, aku tak yakin kita berhasil,” tahan Satire sejenak dengan lirih.
“Lupakan ketakutanmu!” balas Affanti mengkerutkan kedua keningnya.
Seketika, pelarian mereka tertuju pada semak rimbun tepat di belakang gubuk
dan kemudian menghilang.
Konon begitulah keriuhan hidup manusia jika telah bertekad menjadi pengabdi
Singgasana Patera. Sebab para musuh akan menghujamkan amarah kepada siapa pun
yang mengabdi padanya. Sejarah kelam memupuk dendam itu semakin berlarut dan
tak usai hingga detik ini. Pewaris tahta itu telah melegenda diramalkan para
tetua. Namun makhluk beingas jelmaan iblis durjana itu masih mengintai hingga
diisapnya titik darah penghabisan.
Keadaan hening negeri sunyi Patera semakin mengerikan. Perburuan terus
digencarkan. Penduduk semakin resah, bahkan hanya sekedar keluar rumah pun
enggan. Kota Pobua masih dihantui kegelapan. Entah kapan ini berakhir. Hanya
ramalan pak tua di ujung perbatasan itulah harapan mereka satu-satunya.
Tunggu saja! Tak akan lama.
**** bersambung....

Komentar
Posting Komentar