Ikan Rakus yang Lebih Saleh, Betulkah?
Ikan Rakus yang Lebih
Saleh, Betulkah?
S. Hamdi (11 Juni
2020)
Seketika aku bergegas menuju
aquarium kecil di samping
pintu dapur, dekat tempat cucian piring di rumahku. Ya,
merekalah yang sering ku pandangi, tiga ikan kecil berwarna hitam pekat. Entah mengapa
warnanya tidak berubah, padahal ekspektasiku kala itu begitu indah. Ukurannya sekitar
4 cm, sedikit lebih besar setelah kurawat selama kurang lebih satu bulan.
Hampir tidak pernah lupa untuk
selalu kuberi makan setiap pagi dan sore hari, tetapi anehnya ikan-ikan itu
nampak selalu kelaparan. Apa makanannya tidak dimakan? Ku perhatikan pelet dan
udang-udang kecil itu selalu ludes tak terlihat. Di mana kiranya mereka
menyimpan makanannya? Aku sempat menduga jika pelet dan udang itu masuk ke
filter air. Oh ternyata dugaanku keliru, setelah kuperhatikan lagi, mereka
menyantapnya dengan beringas laksana ikan Piranha bertemu daging segar.
Ya begitulah ikan-ikan itu makan.
Tetapi aku di sini bukan ingin membuat paragraf deskripsi tentang ikan, tetapi
lebih mengamati perilaku ikan tersebut. Mari kita buat perandaian, ikan kecil
yang diberikan pakan pagi dan sore hari tidak pernah merasa kenyang. Selalu ingin
makan, mengisi perutnya yang dianggapnya kosong. Naluri hewan selalu memuaskan
kebutuhannya sesaat tanpa memikirkan entah bagaimana nasibnya esok hari. Terkadang,
ada manusia yang bersifat demikian. Dengan sifat tamaknya, mereka mencoba untuk
bermain api agar hawa nafsunya terpuaskan tanpa memikirkan akibat jangka
panjang.
Tak usah jauh kita membayangkan,
para koruptor yang menyantap uang rakyat dengan beringas. Tak peduli ada yang
kelaparan, kedinginan, dan berbagai penderitaan lain karena ulahnya. Rasanya ingin
mengelus dada, kerakusan ikan kecil mungkin hanya akan membuat dirinya sendiri
rugi, tetapi kerakusan mereka yang berenang dalam gedung-gedung mewah justru
menyiksa rakyat.
Mari kita bergeser kepada
fenomena rakus yang lain. Saat ini, era disrupsi semakin membius siapa pun. Berbagai
aspek mengalami perubahan termasuk hal-hal penting dalam hidup seperti style.
Banyak dari mereka para milenial tidak bangga dengan yang dimiliki. Misalnya
saja konsumerisme yang begitu tinggi hanya untuk memenuhi gaya hidup. Menurut Zafri
Husodo, Pakar Perencanaan Keuangan Universitas Indonesia, generasi milenial
menghabiskan 60 % uang atau gajinya hanya untuk hura-hura ataupun mengikuti
tren yang sedang berlangsung. Tidak bisa dipungkiri bahwa walau dari kampung
pun, orang tuanya masih kerja keras bertani tapi anaknya bergaya layaknya anak
bos perusahaan besar. Ini rakuskan? Mungkin ikan yang rakus lebih saleh dari
orang-orang itu.
Mari kita membuka mata hati, kemudian
meredupkan gairah hawa nafsu masing-masing untuk masa depan yang lebih indah.
Konversi generasi kufur menjadi generasi syakir sangat diperlukan
diera ini, mengingat aroma ketidakpuasan ada di mana-mana. Tidak heran jika
Alquran menyebut Ad-dunya mata’ul ghurur (dunia adalah kesenangan yang
menipu) di mana terdapat berbagai macam fatamorgana yang sekilas indah namun
terkadang tidak memberi berkah.
Sangat menginspirasi, apalagi saat ini negara kita masih dalam keadaan yang tidak membaik. Masih banyak perlu diperbaiki terkait kebijakan untuk rakyat kecil.
BalasHapusTerima kasih, iya betul sekali. Sejatinya pemerintah lebih melihat berbagai sisi dari fenomena yg terjadi di negeri ini
HapusKemaren para koruptor, pejabat pemerintah yang rakus akan harta rakyat. Skrang giliran orang menengah ke atas yang rakus akan harta tang seharusnya diberikan kpd org yang miskin. Memanfaatkan covid 19 ini mereka berpura-pura miskin agar mendapatkan bantuan dr pemerintah.
BalasHapusYap betul sekali. Apa tidak malu berharap miskin tapi sbenrnya tidak miskin
Hapus